Desa Adat Bedha Tampilkan Parade Budaya Spektakuler, Bupati Sanjaya Tekankan Pentingnya Pelestarian Warisan Bali
- account_circle arash
- calendar_month Minggu, 12 Jul 2026
- visibility 13
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
Tabanan PR — Semangat pelestarian seni dan budaya kembali bergema di Desa Adat Bedha melalui Pembukaan Parade Budaya dalam rangka Hari Ulang Tahun (HUT) ke-34 LPD Desa Adat Bedha yang berlangsung di Wantilan Desa Adat Bedha, Desa Bongan, Kecamatan Tabanan, Jumat (10/7). Bupati Tabanan, Dr. I Komang Gede Sanjaya, S.E., M.M., didampingi Wakil Bupati Tabanan, I Made Dirga, S.Sos., hadir sekaligus membuka secara resmi Parade Budaya HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha sebagai tanda dimulainya rangkaian perayaan yang mengangkat semangat pelestarian seni, adat, dan budaya di tengah masyarakat.
Turut hadir dalam kesempatan tersebut Perwakilan Anggota DPRD Provinsi Bali, Anggota DPRD Kabupaten Tabanan, Perwakilan Forkopimda Kabupaten Tabanan, Forkopimcam, para Perbekel se-Desa Adat Bedha, Bendesa Adat Bedha, Jero Mangku Lanang Istri, serta seluruh krama Desa Adat Bedha. Parade budaya ini menjadi rangkaian peringatan HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha yang berlangsung hingga Minggu (12/7), dan dibuka dengan penampilan Baleganjur dari 14 banjar adat sebagai simbol semangat kebersamaan sekaligus pelestarian seni budaya yang diwariskan secara turun-temurun.
Mengawali sambutannya, Bupati Sanjaya menyampaikan apresiasi kepada seluruh krama Desa Adat Bedha yang telah menunjukkan semangat persatuan dan gotong royong dalam menyukseskan Parade Budaya HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha. Menurutnya, kekompakan masyarakat Desa Adat Bedha menjadi modal utama dalam membangun desa yang mandiri, mampu mengelola seluruh potensi yang dimiliki, sekaligus menjaga keberlangsungan adat, seni, dan budaya. “Tadi tiang baca ada 3B 3M. 3B yaitu Bedha Bersatu Bersama, terbukti hari ini diwujudkan Bedha Bersatu Bersama menuju masyarakat mandiri. Tidak semua desa adat bisa mandiri seperti Desa Adat Bedha. Patut kita berterima kasih karena Desa Adat Bedha telah mampu mengorganisir apa yang dimiliki, potensi yang dimiliki, sehingga kuat, salah satunya kuat dalam mengelola manajemen keuangannya. Jadi berangkatnya dari LPD niki,” ujar Sanjaya.
Pihaknya juga mengapresiasi pengelolaan potensi desa yang dinilai mampu memberikan manfaat nyata bagi masyarakat. Menurutnya, kemandirian desa adat tidak hanya dilihat dari tata kelola keuangan yang baik, namun juga dari kemampuan mengembangkan potensi lokal yang dimiliki. “Tidak cukup hanya tata kelola manajemen keuangan saja, tetapi mengelola potensi yang ada di sini. Terbukti Bedha memiliki Krematorium Santha Graha. Itu yang disebut mandiri, tidak semata-mata bergantung kepada siapapun termasuk pemerintah. Berdaulat dan mandiri, ini yang sangat keren. Saya berharap bendesa adat yang lain juga mampu memanfaatkan peluang dan potensi sesuai kearifan lokal yang dimiliki,” tegasnya.
Lebih lanjut, Sanjaya menegaskan bahwa desa adat merupakan soko guru pelestarian adat, agama, seni, dan budaya Bali. Karena itu, ketika desa adat kuat, maka seluruh warisan budaya juga akan tetap lestari. “Ketika kuat desa adat ini sebagai soko guru, akan menopang seni budaya, akan menopang pelestarian warisan-warisan yang kita miliki. Terbukti di Bedha ini ketika lembaganya kuat, LPD kuat, SDM-nya kuat, desa kuat, adatnya kuat, akhirnya bisa membuat parade budaya seperti ini. Sebagai pemerintah, kami hadir untuk mendukung dan mendorong program-program seperti ini karena sejalan dengan visi Nangun Sat Kerthi Loka Bali,” imbuhnya.
Menurut Sanjaya, parade budaya juga memberikan dampak nyata terhadap pergerakan ekonomi masyarakat. Selain menjadi ruang pelestarian budaya, kegiatan tersebut mampu menghidupkan sektor UMKM, kuliner, hingga para perajin lokal. “Parade budaya juga sebagai penggerak ekonomi kerakyatan dan UMKM. Bayangkan berapa sekaa yang mengikuti parade, berapa pakaian, kamen, wastra, baju yang terjual, dan berapa makanan yang laku hari ini. UMKM dan kuliner pasti bergerak. Tugas pemerintah adalah bagaimana mendukung agar sektor ekonomi terus bergerak. Karena itu saya berharap Parade Budaya ini terus dilaksanakan setiap tahun. Tidak harus mengutamakan kemegahan, tetapi keterlibatan seluruh masyarakat menjadi kunci keberhasilannya,” jelas Sanjaya.
Menutup sambutannya, Sanjaya mengajak seluruh masyarakat untuk terus mendukung setiap upaya pelestarian budaya serta menjaga nilai-nilai luhur warisan leluhur sebagai identitas masyarakat Bali. Ia berharap HUT ke-34 LPD Desa Adat Bedha menjadi momentum memperkuat persatuan, meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap LPD, sekaligus mendorong Desa Adat Bedha semakin maju dan mandiri.
Di kesempatan yang sama, Jero Bendesa Adat Bedha, I Nyoman Arnaya, menyebutkan, parade budaya dalam HUT LPD Desa Adat Bedha ke-34 ini Mengusung tema “Nangun Kerthi Jagat Bali, Jejak Lestari Banjar ring Alam lan Budaya Bedha”, pihaknya menjelaskan bahwa tema tersebut mengandung makna ajakan untuk terus menjaga keharmonisan hubungan manusia dengan Tuhan, sesama manusia, dan alam sebagai implementasi nilai-nilai Tri Hita Karana demi keberlanjutan budaya, kelestarian lingkungan, dan kesejahteraan bersama.
Lebih lanjut, Arnaya menjelaskan bahwa Desa Adat Bedha yang terdiri atas 38 banjar adat menjadikan semangat persatuan dan gotong royong sebagai kekuatan utama dalam pelaksanaan parade budaya. Partisipasi tersebut diwujudkan melalui keterlibatan 30 banjar adat dalam Parade Baleganjur, 6 banjar adat pada Parade Gong Kebyar, 38 banjar adat dalam Parade Penjor, 6 banjar adat pada Parade Ogoh-ogoh, serta penampilan seni wali dan seni sakral oleh 4 peserta. Menurutnya, keterlibatan seluruh banjar adat tersebut menunjukkan bahwa Parade Budaya Desa Adat Bedha merupakan karya bersama seluruh krama yang tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga menjadi wujud tanggung jawab bersama dalam menjaga warisan leluhur sekaligus menggerakkan perekonomian masyarakat melalui sektor budaya. @prokopimtabanan,-
#bupatitabanan
#tabananerabaru
#banggajadiorangtabanan
#komangsanjaya
#tetepmekenyem
#santaikawan
#agata
#TabananEraBaru
#AmanUnggulMadani
#ProkopimTabanan
#TetepMekenyem
- Penulis: arash

Saat ini belum ada komentar