“Dandim 1608/Bima Pimpin Penghormatan Terakhir untuk Pelda Suharto”
- account_circle arash news
- calendar_month 1 jam yang lalu
- visibility 8
- comment 0 komentar
- print Cetak

info Atur ukuran teks artikel ini untuk mendapatkan pengalaman membaca terbaik.
BIMA, 02 Mei 2026 – Suasana duka yang mendalam menyelimuti Kodim 1608/Bima, pada Sabtu siang tadi. warga dan prajurit TNI dari Kodim 1608/Bima memadati jalanan dan area Tempat Pemakaman Umum (TPU) untuk memberikan penghormatan terakhir kepada salah satu putra terbaiknya,(Alm)Pelda Suharto
Almarhum, yang menjabat sebagai Danpos Belo Ramil 1608-04/Woha, mengembuskan napas terakhirnya di RS Tarolano Empang, Sumbawa, pada Jumat (1/5) petang akibat sakit. Kepergian sosok prajurit yang lahir tepat di hari kemerdekaan, 17 Agustus, ini meninggalkan duka yang teramat dalam bagi kesatuan Kodim 1608/Bima dan keluarga yang ditinggalkan.
Upacara Penuh Kehormatan, jenazah diserahterahkan dari pihak keluarga kepada negara dalam sebuah upacara militer yang khidmat di Mushola Al Huda. Dandim 1608/Bima, Letkol Arh. Samuel Asdianto Limbongan, S. Kom., M.Sc., bertindak langsung sebagai Inspektur Upacara untuk melepas sang prajurit ke peristirahatan terakhirnya.
Dalam sambutannya, Letkol Samuel tidak dapat menyembunyikan rasa kehilangan atas sosok Pelda Suharto.
“Hari ini kita kehilangan putra terbaik bangsa. Almarhum adalah teladan dalam dedikasi. Kami menyampaikan duka cita yang sedalam-dalamnya. Semoga amal bakti almarhum diterima di sisi Tuhan Yang Maha Esa,” ujar Dandim dengan nada bergetar.
Meninggalkan Warisan Pengabdian
Pelda Suharto adalah sosok prajurit sejati dengan rekam jejak gemilang, terbukti dari penganugerahan Satya Lencana Kesetiaan VIII, XVI, hingga XXIV tahun. Ia bukan sekadar tentara, melainkan pilar keluarga sebagai anak pertama dari delapan bersaudara.lanjutnya
Momen paling menyentuh hati terjadi saat prosesi penurunan jenazah ke liang lahat yang diiringi tembakan salvo. Isak tangis pecah saat istri almarhum, Ny. Eni Ratna, bersama anak-anaknya melakukan penaburan bunga. Almarhum meninggalkan empat orang anak, di mana yang terkecil adalah seorang bayi yang baru berusia 14 hari dan bahkan belum sempat diberi nama oleh sang ayah.
Dukungan dari Masyarakat sekitar terlihat dengan Kehadiran pelayat, termasuk anggota DPRD Provinsi NTB, pejabat daerah, tokoh agama, dan tokoh masyarakat, menjadi bukti nyata betapa almarhum dicintai semasa hidupnya. Perwakilan keluarga, Bapak Husni SH, menyampaikan permohonan maaf dan terima kasih kepada seluruh pihak yang telah membantu proses pemakaman.
Upacara berakhir dalam keadaan tertib dan aman. Meski raganya kini telah menyatu dengan tanah kelahirannya di Desa Ngali, semangat dan pengabdian Pelda Suharto akan tetap hidup dalam ingatan rekan sejawat dan masyarakat Bima. Selamat jalan, Sang Prajurit. Tunai sudah janji baktimu kepada Ibu Pertiwi.
- Penulis: arash news



Saat ini belum ada komentar